Penderita Bell’s Palsy
Hari itu, 19 Oktober 2008, aku mengikuti kegiatan yang diadakan oleh HET (Hippocrates Emergency Team) FK UNAND. Nama kegiatan yang aku ikuti itu PPGDM (Pendidikan Penatalaksanaan Gawat Darurat Medis).Acara tersebut berlangsung dari hari Jum’at sampai hari Minggu. PPGDM ini kegiatan untuk umum. Oleh karena itu, terdapat berbagai kalangan yang mengikuti kegiatan ini,mulai dari anak SMA, mahasiswa bahkan ibu-ibu. Anggota yang paling banyak ikut itu dari kalangan MAPALA (mahasiswa pencinta alam), kurasa karena mereka sangat membutuhkan pendidikan ini untuk diterapkan langsung di lapangan ketika mereka jelajah alam.Cakupan wilayah yang ikut pun tidak hanya terbatas di Padang saaj tetapi dari Riau dan Jambi juga ada makanya kemaren itu aku ketemu dengan teman satu les LIA-ku waktu SMP, dia FK UNRI sekarang udah semester 7..
Dalam acara itu berbagai macam materi diajarkan. Mulai dari fraktur dan dislokasi, luka dan perdarahan, keracunan, CPR (Cardio Pulmonary Resusitation)atau biasa disebut pijat jantung, sport injuries,envenomasi, sampai teknik evakuasi..
Dalam acara itu kami dibagi 20 kelompok, aku termasuk dalam kelompok 19. Dalam 1 kelompokku ada 10 orang dan semuanya berbeda asal institusinya. Ada yang dari Mapala STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), Poltekkes, IKM (ilmu kesehatan masyarakat), dan FK.
Kembali ke penderita Bell’s Palsy yang aku temui, hari minggu itu aku bersama kelompokku dikumpulkan di lapangan basket FK. Aku mulai berkenalan dan memperhatikan setiap orang di kelompokku, ada seseorang yang menarik perhatianku. Tahu kenapa? Karena ada sesuatu di wajahnya. Bibirnya sedikit miring, mungkin orang-orang saat melihat ini akan mengira dia pasti pernah terkena stroke tapi ternyata bukan. Hal yang ada di pikiranku saat itu adalah mungkin ada kelainan pada dirinya sehingga seperti itu sebab dari buku yang pernah kubaca, kita dapat mendeteksi apakah ada kelainan genetik pada seseorang dari bentuk wajahnya..
Aku tak perlu sebutkan nama dan asalnya ya. Aku hanya ingin menceritakan pengalamanku saja..
Dia berbaris di belakangku pagi itu, sejak kami berkenalan dia mulai menanyakan berbagai pertanyaan tentang diriku. Setelah upacara pembukaan selesai, dia tampak ingin berbicara denganku dan jadilah saat di bus dia duduk di sampingku. Dia masih menanyakan berbagai hal tentang aku (gak sopan,nih dari awal upacara ampe di bis aku dengerin mp3 di Hpku tapi gak ketauan dari luar,sih.Tertutup jilbab earphone-nya. Heheheee..). Karena gak enak akhirnya aku jadi balik nanya hal2 tentang dia dan jadilah kami tukaran nomor HP. Dia minta dihubungi kalau FK ngadain acara kayak gini lagi. “Insya Allah retri kabari,” kataku. Selang beberapa lama mulailah hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya, dia MENCERITAKAN PENYAKITNYA..!!
Awalnya dia menanyakan apakah aku sudah belajar tentang penyakit saraf atau belum. “Belum belajar,” jawabku. Dia mulai bertanya tentang Bell’s Palsy, apakah aku tahu atau tidak. Aku pernah dengar tapi aku gak berani bilang gimana soalnya aku juga belum mempelajarinya. Aku Cuma bisa bilang yang pernah aku pelajari itu “Cerebral Palsy” tapi itu penyakit untuk anak2 dan menyebabkan kelumpuhan. Coba tebak apa yang dilakukannya? Dia menceritakan semua keluhan penyakitnya mulai dari awal dia merasa sakit telinga hingga bibirnya miring dan matanya tidak bisa menutup, hal yang mengagetkanku adalah DIA MEMPRAKTEKKANNYA DI DEPANKU..!! Masya ALLAH, aku baru kali ini melihat yang seperti itu. Dia memejamkan matanya, dan kalian tahu mata kirinya bisa menutup sempurna sedangkan mata kanannya butuh waktu untuk bisa menutup. Lumayan lama. Kemudian dia bercerita bahwa ini masih mending karena waktu awal terkena matanya benar2 tidak bisa tertutup. Dia bercerita, sejak dia merasa ada yang aneh dia segera konsultasi ke dokter saraf lalu dilakukan berbagai pemeriksaan dan sejak itulah dia didiagnosis penyakit Bell’s palsy. Berdasarkan literatur, pada Bell’s palsy itu merupakan gangguan pada N.VII (facial) yang mensarafi wajah. Penyebabnya idiopatik (masih belum diketahui) namun ada juga yang berbentuk sindrom dan disebabkan oleh virus. Oleh karena itu pada Bell’s palsy biasanya diobati dengan kortikosteroid dan antiviral (untuk bunuh virusnya). Kawanku itu bercerita bahwa hingga saat ini dia masih mendapatkan pengobatan dan fisioterapi. Dia juga mencari dari berbagai literatur tapi tidak ketemu. Dia juga bertanya pada dosennya dan diberi tahu bahwa memang bisa sembuh. Akan tetapi baginya kalau belum melihat secara langsung sumbernya dia tidak puas..
Dia meminta pertolonganku untuk mencarikan bahan bacaan yang ada Bell’s palsy untuknya. Aku berjanji akan mencarikan untuknya. Jadilah malam itu habis pulang PPGDM, aku kecapekan. Habis nelpon aan aku langsung mandi lalu tidur..
Sekitar jam setengah dua aku terbangun lalu bisa menebak apa yang aku lakukan? Aku membuka notebook-ku lalu nonton film. Hehehee… setelah menamatkan film, aku teringat pada temanku itu. Di notebook-ku kebetulan ada program untuk mencari nama penyakit kemudian nanti akan ada data tentang penyebab penyakitnya, tanda-tandanya, sampai prognosis (kemungkinan sembuh) dan referensinya..
Akhirnya aku ketik Bell’s Palsy lalu keluarlah data sebagai berikut..
Bell’s palsy
BASICS
DESCRIPTION:
Paralysis or weakness of the muscles supplied by the facial nerve, typically unilaterally, due to inflammation and swelling of the facial nerve within the facial canal
•Bell’s palsy: Idiopathic
•Ramsay Hunt syndrome: Bell’s palsy associated with vesicles within the outer ear canal or behind the ear, due to herpes zoster infection
•Facial diplegia: The simultaneous development of bilateral Bell’s palsy is highly unusual and conditions such as Guillain-Barré syndrome and chronic meningitis should be considered as possible explanations.
System(s) affected: Nervous
Genetics: There is a familial tendency toward Bell’s palsy
Incidence/Prevalence in USA: 25 in 100,000
Predominant age: Affects all ages. Most common in individuals over 30 years of age.
Predominant sex: Male = Female
SIGNS AND SYMPTOMS:
•Sudden onset or onset over days
•Unilateral total or partial paralysis of the facial muscles
•Mild “numbness” on the affected side
•Ipsilateral inadequate tear production; ipsilateral tearing
•Ipsilateral loss of taste
•Ipsilateral ear ache
CAUSES:
•Bell’s palsy
•Inflammation of the facial nerve within the facial canal
•Exposure to cold
•Probably viral
•Ramsay Hunt syndrome
•Herpes zoster
•Rarely Herpes simplex
•Diabetes mellitus
RISK FACTORS:
•Age over 30
•Exposure to cold
DIAGNOSIS
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS:
•Neoplastic
•Carcinomatous meningitis
•Leukemic meningitis
•Tumors of the parotid gland
•Tumors of the base of the skull
•Infectious
•Lyme disease
•Chronic meningitis
•Bacterial meningitis
•Osteomyelitis of the base of the skull
•Otitis media
•Leprosy
•Other
•Sarcoidosis
•Melkersson-Rosenthal syndrome (facial paralysis with scrotal tongue)
•Head injury with fracture of the temporal bone
•Brainstem stroke (anteroinferior cerebellar artery)
•Multiple sclerosis
•Guillain-Barré syndrome (can initially present as a very typical Bell’s palsy)
•Multifocal acquired demyelinating sensory and motor neuropathy (a variant of CIDP)
LABORATORY:
•CSF protein - mildly elevated in 1/3 of cases
•CSF cells - mildly elevated in 10% of cases, with a mononuclear cell predominance
Drugs that may alter lab results: N/A
Disorders that may alter lab results: N/A
PATHOLOGICAL FINDINGS:
•Edema of the facial nerve
•Occasional hemorrhagic streaks
•Dilatation of the vasa nervorum
•Infiltration of mononuclear cells in some cases
•Atrophy of the facial nerve
SPECIAL TESTS:
•Electromyography in the first three weeks after onset of the condition manifests a decreased or absent interference pattern on the affected side, which reflects a reduction or absence of function of the facial motor units. After three weeks, denervation potentials (fibrillations) are typically seen. Eventually, with recovery, low-amplitude, short-duration, polyphasic (nascent) motor units may appear in previously denervated areas. Recovery may be incomplete.
•Nerve conduction velocities may reveal absence or attenuation of the evoked potential, slowing of the conduction velocity or a normal conduction velocity and amplitude (variable due to varying severity and duration of condition)
•Blink reflex - the electrophysiological equivalent of the corneal reflex, should be abnormal in all cases
IMAGING:
MRI to rule out posterior fossa lesions and intracanalicular 8th nerve tumors if clinical suspicion is high. Bell’s palsy can be mimicked by small brainstem strokes.
DIAGNOSTIC PROCEDURES:
Spinal tap may reveal an elevated protein or cell count, however, it is usually not necessary
TREATMENT
APPROPRIATE HEALTH CARE:
Outpatient except for surgical decompression (very controversial and largely abandoned)
GENERAL MEASURES:
•Close and patch ipsilateral eye
•Methylcellulose eye drops
SURGICAL MEASURES:
N/A
ACTIVITY:
Fully active. Due to patching, use caution in activities requiring keen depth perception.
DIET:
No special diet
PATIENT EDUCATION:
Explanation and reassurance when appropriate
MEDICATIONS
DRUG(S) OF CHOICE:
•Corticosteroids: Prednisone 80 mg po qd for three days, then 60 mg po qd for three days, then 40 mg po qd for three days, then 20 mg po qd for three days, then discontinue use. Course of treatment to begin immediately after onset of Bell’s palsy. There is little benefit in starting steroids after four days.
•Antiviral agents with activity against herpes group of viruses in Ramsay Hunt syndrome and idiopathic Bell’s palsy
Contraindications: Pre-existing infections including tuberculosis and systemic mycosis
Precautions: Use with discretion in pregnancy, peptic ulcer disease, and diabetes
Significant possible interactions: MMR, OPV, and other live vaccines
ALTERNATIVE DRUGS:
N/A
FOLLOW UP
PATIENT MONITORING:
•Recheck monthly for six to twelve months
•Look for evidence of corneal abrasions. Expect early recovery.
PREVENTION/AVOIDANCE:
N/A
POSSIBLE COMPLICATIONS:
•Unmasking of subclinical infection (such as tuberculosis) by steroid usage
•Steroid-induced psychological disturbances
•Steroid-induced avascular necrosis of hips, knees and/or shoulders
•Corneal abrasion and ulceration
EXPECTED COURSE AND PROGNOSIS:
Complete, partial or no recovery of function. Patients with partial denervation typically fully recover. Patients with total denervation usually partially recover, but may exhibit aberrant regeneration (e.g., crocodile tears) or hemifacial spasm as long term complications.
MISCELLANEOUS
ASSOCIATED CONDITIONS:
N/A
AGE-RELATED FACTORS:
Pediatric: N/A
Geriatric: N/A
Others: N/A
PREGNANCY:
Use steroids cautiously in pregnancy. Consult with obstetrician.
SYNONYMS:
•Idiopathic facial paralysis
ICD-9-CM:
351.0 Bell’s palsy
SEE ALSO:
• Herpes simplex
• Herpes zoster
• Ramsay Hunt syndrome, Type 1
OTHER NOTES:
N/A
ABBREVIATIONS:
N/A
REFERENCES
•Dyck PJ, Thomas PK, et al, eds: Peripheral Neuropathy. 3rd Ed. Philadelphia, W.B. Saunders Co., 1993
•Murakemi S, et al. Bell palsy and herpes simplex virus: identification of viral DNA in endoneurial fluid and muscle.
Ann Intern Med. 1996 Jan 1;124(1 Pt 1):27-30
Web citations:
N/A
Author(s):
Colin R. Bamford, MD
IMAGES
Illustrations:
N/A
Copyright 2001 by Lippincott Williams & Wilkins
Akhirnya, tak berapa lama aku langsung mengirimkan pesan untuk dia (jam setengah 2dini hari). Aku jelaskan tentang apa yang aku baca. Aku menjelaskan prognosisnya (karena kulihat dia tidak lumpuh total wajahnya jadi ada kemungkinan untuk sembuh total). Kalian bisa menebak dia benar2 senang waktu tahu. Dia langsung mengucapkan alhamdulillah dan berterima kasih padaku. Dia pikir aku mencari informasi tentang penyakitnya hingga malam selarut itu tapi aku jelaskan bahwa aku hanya mencarinya di program komputerku saja.
Dia meminta bahanku ini, kebetulan karena dia akan fisioterapi di rumah sakit pendidikan kami jadi dia bisa sekalian mampir. Aku bilang aku selesai kuliah jam 1. Nanti kalau dia sudah di kampusku,kasih tau saja nanti biar aku yang menghampirinya. Karena teksnya bahasa inggris, jadi kutawarkan saja biar aku artikan ke bahasa indonesia agar dia lebih mudah membacanya..
Jadilah selain yang bahasa inggris aku juga punya bahan yang berbahasa indonesia. Oleh karena aku kehabisan kertas untuk mem-print, aku membawa flash disk sehingga nanti kalau ada waktu kosong biar aku print-kan untuknya.. Jujur, aku merasa lumayan sedih melihat dia pada saat kelompok kami bersenda gurau kemarin, dia harus menutup mulutnya, mungkin karena takut ketahuan bahwa pada saat dia tertawa bibirnya miring. Suaranya pun tidak jelas terdengar..
Kalian tahu, aku benar2 merasa beruntung bisa bertemu dengan pasien Bell’s Palsy langsung karena penyakit itu tergolong jarang. Selain itu, aku tidak menyangka bahwa aku sedemikian dipercayanya untuk ia ceritakan tentang penyakitnya padahal statusku kini hanya mahasiswa..
Semoga dia bisa benar2 sembuh. Amin ya rabbal alamin..
November 5th, 2008 at 4:33 am
[...] http://retriani.blog.friendster.com/2008/11/penderita-bells-palsy/Precautions: Use with discretion in pregnancy, peptic ulcer disease, and diabetes. Significant possible interactions: MMR, OPV, and other live vaccines. ALTERNATIVE DRUGS:. N/A. FOLLOW UP. PATIENT MONITORING: … [...]
November 14th, 2008 at 11:32 pm
Casino 491e5bca9d…
Casino 491e5bca9d…